Posted by: arektroloyoasli on: April 16, 2009
MENUNTUT ILMU BUKAN HANYA DI SEKOLAH
Beberapa waktu yang lalu ada beberapa siswa yang melanggar aturan sekolah yang berkenaan dengan akhlak. Detail dari pelanggaran mereka, tidak akan q tulis disini demi menjaga nama baik mereka. Karena pelanggaran dimata seorang guru tetap saja dinilai optimis, artinya menindak pelanggaran untuk dua hal yaitu tidak diulangi dan pembinaan supaya lebih baik.
Interview adalah langkah yang saya lakukan, bukan investigasi dengan harapan siswa-siwaku tidak akan merasa dihakimi namun perasaan salah yang tumbuh dalam diri mereka sendirilah yang ingin kutumbuhkan. “kenapa kamu sekolah?” adalah pertanyaan singkat tapi mengandung makna yang sangat mendasar. Enam siswa yang kutangani mempunyai jawaban yang nyaris sama yaitu, menuntut ilmu atau mencari ilmu.
Jawaban ini buka hasil rekayasa ataupun hasil contekan. Raut kejujuran nampak sekali diwajah mereka. Wajah polos mereka jelas terlihat olehku. Namun perasaan salah yang aku harap belum nampak. Pertanyaan keduapun aku susulkan, “apakah menuntut/mencari ilmu harus di sekolah?”. Pertanyaan ini betul betul membuat mereka kebingungan. Nereka diam dan tidak ada satupun yang sanggup menjawab lebih dulu.
Dalam hatiku, sebenarnya pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dijawab namun sangat berat konsekwensinya. Akupun memaksa mereka untuk memberikan jawaban dan mereka semua menjawab tidak. Singkat cerita akupun memberikan sanksi “tugas latihan bahasa inggris” sekaligus mendongkrak pembelajaran bahasa Inggris mereka.
Malam harinya, aku masih kepikiran dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku berikan kepada mereka. Akupun mencoba mengingat nasehat asatidz sewaktu aku menempuh di salah satu pesantren di Ponorogo. “Al-Ilmu Fissudur La Fissutur”. Petuah ini memiliki maksud bahwa ilmu adanya di dada bukan di tulisan. Prinsip ini sangat mendalam di jiwa para pelajar di zaman dulu dima kertas belum ditemukan dan “saba” adalah satu-satunya alat tulis tercanggih saat itu. Siswa tidak mengenal aturan, mereka hanya mengenal “dawuh” dan harus sendiko ing dawuh. Mereka kurang memiliki ruang berargumentasi, maupun berpikir kritis.
Seiring perkembangan zaman, dunia pendidikan mulai beralih dari “sudur” ke “suture”. Prinsip itu bergeser “al-ilmu fissutur la fis-suduur” yang artinya ilmu adala dalam tulisan (buku) bukan di dalam dada.. Tehnologi mulai tumbuh dan kertas bisa diproduksi nasal dan tersebar sampai ke pelosok negeri. Disaat yang sama Ilmu pengetahuan dan tehnologi berkembang sangat luar biasa. Beralihlah model pembelajaran yang didominasi hafalan kearah menulis (dalam arti menyalin). Di era ini guru sangat dominant dan guru adalah sosok yang maha dahsyat meskipun apa yang disampaikan guru bukan lagi dianggap dawuh ataupun sabda. Guru sangat enjoy karena aktifitas mereka yang banyak memberikan dawh/sabda berkurang dengan adanya aktifitas baru yaitu menyalin. Hampir tiap saat proses pembelajaran 98% adalah menyalin. Yang paling asyik guru bawa buku dan menyuruh salah seorang siswa untuk mencatat di kelas dan siswa yang lain mencatat dan lima menit sebelum pembelajaran berakhir mereka memberikan instruksi “baca dirumah!”. Hebat kan?
Menurut saya “AL-ILMU FISSUDUR MAUPUN AL-ILMU FISSUTUUR”, sudah tidak relevan lagi. Keduanya telah lama melalui masa kejayaannya, renungan menjelang tidurku pun semakin dalam. Tiba-tiba terbersit di dalam hati bahwa ”AL-ILMU FI INTERNET artinya ilmu itu ada dalam internet”. Bidang apapun yang ingin kita dalami semuanya telah ada di internet. Bahkan apa yang kita tidak jumpai di tempat tinggal kita, kita dapat menjumpainya di Internet dengan cepat, murah bahkan gratis. Lantas kenapa harus sekolah kalau semua bidang ilmu telah ada di internet? Apakah kita harus putus sekolah dan daftar sekolah di internet? Renungkan!
By ROMLI (085648784877)